Barulah ia tahu
Ketika keilahian meresap segenap darahnya
Bahwa cahaya rembulan tengah hari itu
Benar-benar rembulan yang menerangi
Benar-benar rembulan yang menaungi
Dari sengatan matahari ganas kemaraunya hidup
Barulah ia tahu
Pantai impian itu
Benar-benar pantai yang telah sudi menyimpan debu jejaknya
Walau sudah terkontaminasi limbahan pabrik masa kini
Barulah ia tahu
Keraton-keraton yang didirikan sultan sebelumnya
Benar-benar rumah yang telah menyerap keringat jiwanya
Meleburkan jasad untuk abu penyucian jiwa
Di kala kemayaan lebih bercokol dalam kenyataan
Barulah ia tahu
Bahwa ia benar-benar berarti
Walau setitik zarah coklat menyempal darahnya
Balber, 22042008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar