Oleh: M. Saifun salakim
Ketika hujan malam lalu
Dapat kupintal menjadi benang
Akan kuikat tulang belulang
Yang berserakan di rimba belantara
Tak pernah diperdulikan
Agar menjadi sejarah manusia
Dengan berdiri monumennya di pencakar langit
Ketika hujan malam lalu
Dapat keseduh menjadi teh panas
Yang telah siap disuguhkan di ruang tamu
Akan kuminumkan
Pada wajah lusuh menengadah langit
Atau wajah kuyu tertunduk maksum
Melubangi batu di tengah samudera bakti
Agar menjadi kenangan kental manusia
Bertelanjang di pusara satelit yang bertebaran
Di sekitar hati bumi
Ketika hujan malam ini
Adalah bahasa sunyi yang dapat kumengerti
Tak heran bintang bisa menjadi rembulan
Dalam menerangi kegelapan pepohonan
Yang tumbang di petak jiwa
Agar manusia menyadari kesenjaan hari
Dibawa larut oleh kemanisan ikan emas
Bermain riang di danau jernih
Hujan malam lalu mendekap erat hujan malam ini
Merupakan kinesik arkais kehidupan
Merangkul mesra serpihan tanah merah
Menjadi bahasa hati kita yang belum terpahami
Ruang Belajar, 31 Oktober 2001 (18.15)
Kamis, 13 September 2007
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Jingga Aksara Menawan Puisi akrostik dari nama: Musfeptial Karya: Sarifudin Kojeh Menjemput ji...
-
Oleh: M. Saifun salakim Rumah rumput memaguti burung patah sayap Masih dapat terbang bebas mengangkasa Menyinggahi rembulan berzikir renyah ...
-
Oleh: M. Saifun salakim Menutup lembaran angin Saat putih-putih mengeposkan email Saat gelegar gendang menghempas di pucuk AC Belum bisa ter...
-
Rasa sakit mendera badannya bagian bawah. Ada apa ya? Rasanya begitu beratnya. Seperti diganduli beban berat yang berton-ton. Jangan-jangan ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar