Minggu, 09 September 2007

Titik Merah

Karya : M. Saifun salakim


Adegan Kesatu

Berjalan tetap berjalan
Kutatap mega membisu
Tawa … riang …. Bergelora …. (koor)
Membayangkan sesosok wajah semu (koor)
Semakin dekat. Dekat.
Bahagia.

Cita : “(berjalan menghampiri Anti yang duduk di bangku taman sekolah dan asyik membaca buku.
tangannya bergerak menepuk bahu Anti)
Anti : “Kamu nih ngagetin orang saja. Dasar ulat bulu. (kaget)
Cita : “Asyik … Aku bersyukur. Kamu bisa tahu bahwa aku yang datang, kutu bufet?”
Anti : “Asyik ya asyik … tapi ada apaan sih? Kamu ganggu aku?”
Cita : “Ada info penting dan terkini …”
Anti : “Belagu. Baru saja dapat info penting sudah begini gayamu. Apalagi kalau dapat lotere … bisa
gila benaran. Gila! Gila!”
Cita : “Biarkan saja. Suka-suka akulah. Tapi, kutu bufet. Info penting ini berkaitan denganmu?”
Anti : “Berkaitan denganku.” (kaget). “Jangan-jangan kamu hanya menyejukkan hatiku. Agar aku
tak sewot.”
Cita : “Tidak, kutu bufet. Ini tak ada kaitan dengan itu.”
Anti : “Jadi … info penting itu seperti apaan? Jangan-jangan …” (termenung sebentar) “Ah, aku tahu
…” (ceria) “Info tentang pesawat tempur kabur dipupuri. Rudal scud mati diskak mat. Minyak
kedodoran. Parfum monyet. Atau … bra bergagang enggang. Atau sumit melintang, putus
membujur lalu … … … (tawa mengejek).
Cita : “Bukan, kutu bufet. Tapi nih barang terunik dan terantik sedunia.”
Anti : “Unta kepala monyet.”
Cita : “Bukan. Tentang cowok, kutu bufet. Ganteng selangit. Seribu karam dieram. Seratus persen
ditanggung beres habis.” (semangat).
Anti : “Ogah, ah. Kalau hanya urusan itu. Tidak! Dikiraku info penting apaan? Sorry ya … (ingin ber-
anjak pergi).
Cita : “Tunggu dulu, kutu bufet. Belum dilihat sudah mau kabur. Duduk dulu.” (pintanya)
Anti : (duduk lagi tapi sedikit cemberut)
Cita : “Kutu bufet, ini lihatlah orangnya. Pasti kamu akan ketagihan kalau sudah melihatnya. Kecan-
duan…
Anti : (memotong pembilcaraan Cita) “Memang kecanduan obat bi……..
Cita : (memotong pembicaraan Anti) “Lalang…….. Lalang gatal cepat kemari! Sini! (pekiknya
Memanggil.

Derap langkah berirama
Wajahmu tebar pesona (koor)
Ku terpana. Bisu menerka
Kau sungguh teristimewa (koor)
Seketika kita begitu dekat
Tak kutahu kita asyik bercanda (koor)
Hingga temanku minggat tak berkata-kata
Dengan sungut udangnya
“Dasar jamal. Padahal maunya semat.
Aku senang (koor)
Betapa indahnya (koor)
Bersamanya (koor)

Adegan Kedua

Lalang : “Hai Fit….. pangeranmu datang.” (gembira) “Bagaimana rasa cintamu padaku, Fit?” (meminta)
Fitri : “Huh….. Huh…” (membuang muka)
Lalang : “Jatuh bangun aku mengejarmu. Namun dirimu tak mau mengerti….” (nyanyi) “Fit, aku benar-
benar mencintaimu.” (setengah sedih dan pilu)
Fitri : “Bukan ku menolakmu untuk mencintaiku. Tetapi lihat dulu siapakah dirimu… (nyanyi)
Lalang : “Aku tahu… Aku tahu, Fit.” (pilu) “Satukan hati, satukan jiwa. Bersua padamu senang rasanya.
mencintai dirimu tiada dosa. Menyayangi dirimu tiada salah ….” (nyanyi) “Aku rela berkorban
untukmu, Fit.”
Fitri : “Ogah, ah. Maaf aku tak sudi.” “Mulut manis hati berbisa. Ular beludak tak ku percaya ho……”
Lalang : “Fit, aku mohon… yakinlah…” (memelas) “Belah dadaku. Tengoklah jantungku. Seratus persen
cintaku padamu. Pisau ini akan jadi saksi pembuktian ketulusan cintaku….” (menyerahkan
pisau itu ke Fitri agar Fitri bisa membunuhnya)
Fitri : “Uh…” “Bagaikan musang berbulu domba. Nanti kuberi cinta kau tanam dusta.” (nyanyi)
Lalang : “Percayalah! Percayalah, Fit! Aku rela mati untukmu.” (lalu ia ingin menghunjamkan pisau
yang tidak diambil Fitri ke perutnya)
Fitri : “Jangan!!!! Jangan, Lang. kini aku percaya…” (lalu mengambil pisaunya dan dibuangnya jauh-
jauh)
Lalang : “Fit………” (rangkulnya pada pinggang Fitri dalam posisi berjongkok)
Fitri : “Ehem…” (menganggukkan kepalanya dan memurus kepala Lalang dengan rasa sayang)

Adegan Ketiga

Kutunggu engkau di sudut waktu
Agar bayanganmu mengilas wajahku
Seketika sosok nyatamu menjelma

Anti : “Lang… Lang… Aku sudah…” (terputus ucapannya)
Lalang : “Sudah… Sudah apaan? Cepat katakan! Waktuku sangat singkat. Aku mau kerja!” (ingin ber-
anjak pergi)
Anti : “Tunggu dulu, Lang. Lang, aku hamil.”
Lalang : “Hamil?” (kaget) “Tidak mungkin. Tidakkkk…” (pekiknya)
Anti : “Benar. Aku benar hamil. Aku meminta tanggung jawab darimu atas benih yang kamu tanam
di tanahku ini…” (tunjuknya pada perutnya)
Lalang : “Tidak! Aku tidak…. Benih itu bukan dariku?” (tudingnya)
Anti : “Jangan sembarangan ya. Aku tak pernah bergaul dengan orang lain selain dirimu. Lang,
kamu jangan mencari alasan-alasan. Jangan mau enaknya saja. Aku ingin kamu mengawini
ku sekarang. Kalau tidak…. Awas kamu! Hidupmu akan kubuat tak berwujud lagi.” (ancam-
nya dan marah)
Lalang : “An, tenang… Tenang dulu. Begini saja. An, sebenarnya aku belum siap jadi ayah. Lebih baik
kamu gugurkan janin itu. Aborsi!”
Anti : “Aborsi? Kampret tengik. Aku tak mau jadi pembunuh.”
Lalang : “Itu bukan pembunuhan, tapi penyelamatan.”
Anti : “Tidak! Apapun bentuknya. Aku tidak mau…”
Lalang : “Kalau tidak mau, sudahlah. Bersiap-siaplah kamu menghadapi mati suri.”
Anti : “Apa maksudmu?”
Lalang : “Karena aku tidak akan jadi suamimu. Sampai kapanpun! Selamat tinggal, An.” (berlari cepat
meninggalkan Anti)
Anti : “Bangsatttttt…. Kubunuh kau…” (kejarnya kemudian ia jatuh terjerembap) “Setega-teganya
lelaki buaya, tetapi tak setega dirimu yang pendusta. Sekejam-kejamnya penjahat cinta, tapi
tak sekejam dirimu yang durjana…. (nyanyi) hu……. Hu……. (menangis sedih mengenang nasib
jeleknya)

Adegan Keempat

Mendung semakin mendung (koor)
Muram. Kelabu. Pekat. (kooor)
Merengkah butiran penyesalan (koor)
Mengapa aku jadi begini?
Mengapa aku tanggung derita ini?
Tuhannnnn…………… (koor)
Apa salahku?
Mengapa kamu buat aku seperti ini?

Duarrrrrr………. Bunyi pintu ditendang dengan keras.
Pak Jewel : “Anti…… Anti…… Dimana kamu?” (berang dan memekik)
Bu Rekut : “Sabar, Pak.Jangan berteriak begitu. Malu dilihati tetangga.” (menyabarkan suaminya)
Pak Jewel : “Kutu busuk! Kupret! Bangsat! Anak itu memang kurang ajar. Bikin malu saja.” (lang-
kahnya dipercepat)
Bu Rekut : (mengikuti langkah suaminya)
Pak Jewel & Bu Rekut : (mencari Anti. Mereka temukan Anti di kamarnya sedang menangis)
Pak Jewel : “Hei, anak sialan! Begini ya kerjaanmu? Begini ya balasanmu? Membuat martabat
kami jatuh menungging.” (tunjuk bapaknya tepat di muka Anti)
Anti : (diam dan terus menangis. Makin pilu)
Pak Jewel : “Jawab!!! Jangan menangis terus.”
Bu Rekut : “Betul, Nak. Jawablah apa yang ditanyakan bapakmu itu.”
Anti : (bisu dan tertunduk makin dalam)
Pak Jewel : “Nakkkkkk….” (pekiknya semakin garang)
Anti : (terkejut dan tengadah. Bukan takut malahan berani).
Pak Jewel : “Mengapa kamu bunting, hah!”
Anti : “Accident.”
Pak Jewel : “Accident taik sapi. Kamu tahu, tidak? Gara-gara kebuntinganmu bapak dan ibumu ja-
di tak punya muka untuk menengadah dengan kebanggaan.”
Anti : “Menaruh saja dimalukan. Taruh saja di pantat. Bereskan.”
Bu Rekut : “Nakkkk………! Lancang sekali kamu bicara seperti itu. Mana sopan santunmu.”
Anti : “Sudah habis dimakan kucing.”
Pak Jewel & Bu Rekut : “Hah?!” (berbarengan).
Pak Jewel : “Nak, kamu sudah kelewatan banget. Sudah bunting, bikin malu lagi. Bicaramu tak
punya sopan santun pula. Begini ya balasanmu. Padahal kami sudah penuhi kebu-
tuhan sekolahmu. Semuanya. Coba kurang apalagi, hah?”
Anti : “Kurang perhatian, Pak. Pernahkah bapak dan ibu menyuruh Anti belajar? Nonsens!
Pernahkah bapak dan ibu meluangkan waktu untuk berbagi ceria dengan Anti?
Bulshit! Pernahkah bapak dan ibu menanyakan ada pr atau memberikan motivasi dan
semangat agar Anti berhasil? Bulshit. Bulshit.”
Pak Jewel : “Untuk apa diberitahu lagi. Kamukan sudah besar. Tak perlu dibegitukan.”
Anti : “Salah, Pak. Malahan semakin besar, kami membutuhkannya. Biar ada ketenangan
Dan kedamaian.”
Pak Jewel : “Kupret! Sialan! Terus membantah saja kerjamu. Tak pernah mengindahkan omongan
orang tua.”
Bu Rekut : “Durhaka, Nak?”
Anti : “Sekalian saja. Yang penting Anti puassssss.”
Pak Jewel : “Puas? Puas membuat malu! Puas mencemarkan martabat orang tua! Puas menjadi
anak bangsat! Puas tak tahu malu! Tak tahu…. Sekalian saja dipepesin. Biar tak mem-
buat gara-gara lagi.”
Anti : “Gara-garanya sudah seminggu masuk rumah sakit. Tinggal menunggu kemati….”
Pak Jewel : “Mempermainkan orang tua lagi. Anak keparatttt…….. plakkkk….. plakkk……(tangan Pak
Jewel mendarat di pipi Anti sebanyak empat tiga kali).
Anti : (jatuh terjerembap).
Bu Rekut : “Lebih baik kamu mati saja daripada kami harus menanggung malu seperti ini.” (ten-
dang ibunya mendarat di badan Anti).
Anti : “Aduh…….” (mengaduh kesakitan).
Pak Jewel & Bu Rekut : (terus memukuli anaknya).
Anti : (terus mengaduh kesakitan) “Bunuhlah aku……. Kalau itu memang memuaskan hati
kalian.” (tangisnya menggema berpadu jeritan kesakitannya).
Pak Jewel & Bu Rekut : “Baiklah….. Kalau itu maumu….” (terus memukuli anaknya hingga babak
belur).
Anti : “Akh….” (jerit Anti panjang lalu langsung pingsan).
Pak Jewel & Bu Rekut : (menghentikan pelampiasan emosinya dan memandang anaknya de-
ngan wajah kepuasan).

Adegan Kelima

Pak Jewel : “Dok, tolong anak kami. Ada apa ya?” (khawatir)
Bu Rekut : “Ya, dokter. Tolonglah…..”
Dokter Rina : “Sebentar, Pak. Saya akan memeriksanya dulu. Suster Mini, tolong ambilkan stetos-
kop saya.” (memerintah Suster Mini).
Suster Mini : “Baik, dok. Sebentar saya ambilkan.” “Ini dok barangnya.” (menyerahkan stetoskop ke
tangan dokter).
Dokter Rina : “Terima kasih, Sus Mini. Kamu boleh pergi. Jaga pasien yang lain. Mengenai pasien
Ini biar saya saja sendiri yang mengatasinya.” (tunjuknya pada Anti).
Suster Mini : “Baik, dok. Tapi kalau dokter perlu sesuatu, panggil saja saya. Saya siap melayani
Dokter. Saya permisi dulu, dok.” (ia segera pergi untuk menjaga pasien yang lain).
Dokter Rina : (mulai memeriksa pasiennya).
Bu Rekut : “Bagaimana keadaannya, dok?”
Dokter Rina : “Syukurlah. Ia hanya pingsan saja. Tidak ada cidera di dalam. Cuma cidera di luar
saja. Untung saja hal itu tak membahayakan janinnya. Mengapa sampai jadi begini,
Pak, Bu?”
Pak Jewel : “Kami tak tahu, dok.”
Dokter Rina : “Kalau tak tahu, sudahlah. Tapi lain kali tolong jaga anak bapak dan ibu baik-baik.
apalagi dalam kondisi hamil begini. Bahaya. Bisa-bisa memar ini merenggut nyawa-
nya.” (nasihatkan Dokter Rina pada orang tua Anti).
Bu Rekut : “Baik, dok. Lain kali kami tak akan teledor lagi.”
Pak Jewel : “Aku juga menyesal tak memperhatikannya, dok.”
Dokter Rina : “Sudahlah… Sudahlah…. Maaf Pak, Bu, saya permisi dulu memeriksa pasien yang lain”
Pak Jewel & Bu Rekut : “Ya, dok. Silakan!” (berbarengan).

Sebulan kemudian Anti mulai sembuh. Anti dan orang tuanya mulai mencari Lalang ke pelosok negeri. Meminta pertanggungjawabannya. Namun tak pernah ditemukan. Anti dan orang tuanya mulai kesal. Kecewa. Sakit hati. Akhirnya Anti dan orang tuanya mengadukan masalah itu ke kantor polisi. Dengan gugatan perkosaan. Polisi mulai mengomplitkan data dan bekerja sigap untuk menangkap pelakunya. Tapi belum terlaksana. Kemudian surat kabarlah dijadikan media untuk menemukan Lalang. Mengekspos beritanya…. Tersebarlah…..

Adegan Keenam

Fitri : “Apa-apaan nih, Lang?” (menyodorkan sebuah surat kabar pada Lalang).
Lalang : “Apaan sih?” (mengambil surat kabar itu dan membacanya).
Fitri : “Betul kamu yang melakukannya, Lang?” “Kalau benar. Aku sungguh kecewa. Aku tak
sangka kamu sebejat itu.”
Lalang : “Jangan dulu berprasangka jelek, Fit. Itu bukanlah aku. Itu Lalang yang lain. Tidak
mungkinlah aku berbuat senista itu. Aku kan orang baik-baik.”
Fitri : “Tapi…? Bisa saja kamu berkelit. Menututpi kedokmu. Jujur saja, Lang. kamu melaku-
kan itu atau tidak?” (meminta ketegasan Lalang).
Lalang : “Tidak, Fit. Aku berani bersumpah. Aku tidak melakukan hal itu.”
Fitri : “Apa sumpahnya, Lang?”
Lalang : “Aku rela mati disengat kalajengking tujuh turunan. Puas?”
Fitri : “Puas. Sekarang aku bisa bernapas lega.”
Lalang : “Kamu ni Fit selalu begitu saja.”
Fitri : “Yalah. Karena aku tak ingin kehilanganmu.”
Lalang : “Syukurlah. Aku juga sama. Tak ingin kehilanganmu. Aku ingin selalu bersamamu
sampai mati.”
Fitri : “Aku juga.” (rangkulnya manja. Menumpahkan resahnya tadi).

Adegan Ketujuh

Secara diam-diam Lalang mendekati Anti yang asyik duduk santai di taman. Lalang menyapa Anti.
Lalalng : “Hain, An?”
Anti : “Eh, kamu.” (kejutnya) “Untuk apa kamu datang lagi?”
Lalang : “Jangan begitu, An.” (menunjukkan wajah memelas) “Kitakan masih…….”
Anti : “Masih kentutmu. Sekian lama kamu membuatku menderita dan malu. Pergi kamu!
Pol…….”
Lalang : “Tenang dulu, An.” (menekap mulut Anti) “An, aku menyesal telah membuatmu men-
derita. Aku sekarang sadar, An. Untuk itu, aku datang padamu. Aku ingin bertanggung
jawab atas kehamilanmu. Aku siap mengawinimu.” (melepaskan tekapannya pada
mulut Anti).
Anti : (terpana sebentar) “Bohong!!! Aku tak terpercaya.”
Lalang : “Betul, An. Aku siap menjadi suamimu. An, berilah aku kesempatan untuk memper-
baiki kesalahanku ini.”
Anti : “Tidakkkkkk!!! Aku sudah muak melihatmu.”
Lalang : “Annnnn?” (pekiknya tertahan) “Apakah aku tak pantas menebus salahku? Dosaku?”
(mulai sendu) “Kalau kamu memang ingin menghukumku. Hukumlah. Aku rela. Aku
ikhlas. Kalau itu sebagai ganti penebus kesalahanku.” (mulai sedikit mengeluarkan
rintik tangisnya).
Anti : (bingung) “Mengapa tidak kamu lakukan sejak dulu?”
Lalang : “Karena bapakmu tidak setuju denganku.”
Anti : “Bapakku?”
Lalang : “Ya. Dialah yang menyuruhku tak boleh mengawinimu.”
Anti : “Bohong?”
Lalang : “Aku tidak bohong. Ini buktinya. Dengarkanlah….!!!” (mengeluarkan tape recorder re-
kaman dari sakunya dan mendengarkannya pada Anti).
Anti : “Tidak mungkinnnnn!!!” (pekiknya setelah dia mendengarkan rekaman itu)
Lalang : “Itulah kenyataannya, An.” (tegasnya)
Anti : “Bapak kejammmmmm!!! Kejammmmmmmmm!!!”
Lalang : “Tenang, An. Sudahlah. Sekarang kamu sudah tahu kebobrokan moral bapakmu. Se-
karang kamu sudah tahu bahwa aku tidak bersalah. Sudahlah….. Kita akan segera
menikah, An dan menjadi suami isteri.”
Anti : “Lang, maafkan aku…….”
Lalang : “Ya, An. Mari kita menikah.” (bopongnya dengan sangat hati-hati).
Lalang : (Setengah jalan dia berhenti. Ia mengeluarkan pisau dari celananya lalu ditusukkan-
nya ke perut Anti) “Rasakan pembalasanku wanita keparat!!!”
Anti : “Akh…….. Kaaaa….. Uuuu…….” (memegang perutnya yang robek sambil tangannya me-
nunjuk Lalang).
Lalang : (tertawa) “Haha……Hahha….. Aku mennnaaanggggg….!!!” (Katanya memperhatikan wa-
jah Anti yang beku dengan senyum kepuasannya).



Selingan Epilog

Lenggang melenggang ( 2X )
Mari kita berlenggang-lenggang
Tari menari ( 2X )
Mari kita menari-nari

Hilangkan sedih, hilangkan kecewa
Walau hidup hanya sementara

Tepuk-tepuk-tepuk
Tepuk ayo tepuk
Tepuk rame-rame
Tepuk-tepuk gembira

Tepuk-tepuk ini
Tepuk ayo tepuk
Tepuk rame-rame
Akhiri cerita kami

Pantun :
Jalan trans kalimantan penuh polusi
Membuat banyak orang terkena flu
Inilah sepenggal kisah suguhan kami
Semoga ada hikmahnya melekat di kalbu

Burung irian dan burung cenderawasih
Cukup sekian dan terima kasih

Tidak ada komentar:

Jingga Aksara Menawan Puisi akrostik dari nama: Musfeptial Karya: Sarifudin Kojeh                                        Menjemput ji...