Huruf-huruf keriting dalam cerita Danarto
Berbicara lantangnya di kekedapan ruangan
Yang dibawakan oleh Danarto di depan podium,
Bertopikan putih berseri dan ulasan senyum persahabatan
Menjamah hati dan mata batin manusia
Terukir dalam format hari yang tak menentu
Musim kemarau yang mengandung kesejukan
Di daerah ini
Menggerakkan huruf-huruf tersebut berseliweran
Menembus jantung yang kesepian
Mencari kekhasan masing-masing dalam persajakan hidup
Huruf –huruf keriting yang tenang itu segera mengental
Dalam beribu kepala-kepala terpenggal
Dari beribu suku dan budaya yang berbeda
: memikir atau berdiskusi
: Berbuat atau berdiam
Atau menyumpahi nasib
Huruf-huruf keriting dalam cerita Danarto
Tersorok di kursi panjang empat persegi
Dengan belakang kursinya berbentuk kubus bundar
Hanya mempunyai satu kaki tumpuan
Oleng ke kiri dan ke kanan,
Hasrat pun membara menetaskan pikiran manusia
Sehingga memberikan ruang pertanyaan pada Danarto
”Betulkah tumpuan satu kaki ini adalah cinta?”
”Betul. Tapi sebagian besarnya adalah kepasrahan total pada kebenaran,” jawab Danarto dengan tersenyum beribu makna.
Balai Berkuak, 25082008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Jingga Aksara Menawan Puisi akrostik dari nama: Musfeptial Karya: Sarifudin Kojeh Menjemput ji...
-
Oleh: M. Saifun salakim Rumah rumput memaguti burung patah sayap Masih dapat terbang bebas mengangkasa Menyinggahi rembulan berzikir renyah ...
-
Rasa sakit mendera badannya bagian bawah. Ada apa ya? Rasanya begitu beratnya. Seperti diganduli beban berat yang berton-ton. Jangan-jangan ...
-
Oleh: M. Saifun salakim Menutup lembaran angin Saat putih-putih mengeposkan email Saat gelegar gendang menghempas di pucuk AC Belum bisa ter...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar