Beginilah keadaan guru pedalaman
Menganyam daun pandan menikmati malam
Diterangi pelita merangkai kehidupan bersulam
Mengukir ornamen-ornamen pengabdian beruluk salam
Sampaikan pada jiwa-jiwa yang menyayangi pualam
Kemarau memanggang tak dirasakan
Sebab langkah adalah kemurnian hati yang kerasan
Dalam mendidik anak didik penuh perasaan
Walau debu dan racun jalanan
Menyesakkan pernapasan yang mengerang
Membaluri kecintaan tugas yang memanjang
Sepanjang-panjang terbitan matahari petang
Setinggi-tinggi kerlipan bintang-bintang
Setulus-tulus kedalaman air diarungi udang-udang
Hujan menyapa tak hentikan hasrat
Menumpahkan ilmu sampai ke serat-seratnya
Biar lancar diserap benak-benak tumpul berat
Bagaikan tetesan air memecah batu berkarat
Memancarkan pesonanya demi masa depannya
Bila usia mendekati rembang petang
Jinjingan plastik sudah tak berkutang
Guru-guru itu tak berkedip menatap bintang
Melirihkan suara hatinya yang terpendam
Kapan hati kami disematkan tujuh bintang
Untuk kami banggakan sebagai kemuliaan
Memasuki makam tanpa tembang-menembang
Balai Berkuak, 16052008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Belamin Selalu Berseri Oleh: Sarifudin Kojeh ...
-
Oleh: M. Saifun salakim Rumah rumput memaguti burung patah sayap Masih dapat terbang bebas mengangkasa Menyinggahi rembulan berzikir renyah ...
-
Oleh: M. Saifun salakim Menutup lembaran angin Saat putih-putih mengeposkan email Saat gelegar gendang menghempas di pucuk AC Belum bisa ter...
-
Jingga Aksara Menawan Puisi akrostik dari nama: Musfeptial Karya: Sarifudin Kojeh Menjemput ji...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar