Bis malam tiba di stasiun cintanya
Pukul tujuh belas merapatkan rasa
Meluahkan kerinduan berbuku-buku
Pada bulan. Pada bintang.
Bertaburan di angkasa kehidupan
Hilir mudiknya terus bersajak
Dalam bakti ibadah dan zikir doa
Satu pintanya
Cintanya dapat bertekuk lutut di munajahnya
Agar setiap saat berbagi rasa
Dalam gelora asmara, semi bertahta
Akan jadi ratu dan raja dalam sempada
Bersama kekasihnya
Yang selalu setia dan tabah menantinya
Melangkah bersama dengan kereta
Menggapai impian semalam
Di matahari kota persinggahannya
Bis malam kali ini tiba telat
Di stasiun cintanya
Pukul tujuh belas lewat satu menit
Menitikkan air-air pengharapannya
Menjadi pisau-pisau tajam
Menikam jantungnya mati seketika
Sekali tak berarti
Selamanya mengunyah kesunyian diri
Pontianak, 26052006
Kamis, 29 Mei 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Belamin Selalu Berseri Oleh: Sarifudin Kojeh ...
-
Oleh: M. Saifun salakim Rumah rumput memaguti burung patah sayap Masih dapat terbang bebas mengangkasa Menyinggahi rembulan berzikir renyah ...
-
Oleh: M. Saifun salakim Menutup lembaran angin Saat putih-putih mengeposkan email Saat gelegar gendang menghempas di pucuk AC Belum bisa ter...
-
Jingga Aksara Menawan Puisi akrostik dari nama: Musfeptial Karya: Sarifudin Kojeh Menjemput ji...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar