Oleh: M. Saifun Salakim
Lampu merkuri larut dalam jiwanya
Dibiarkannya saja tanpa kenal lelah
Seperti larutnya coca cola dalam minumannya
Berbual-bual menimbulkan pasang yang menjemputnya
”Ayah, jangan jemput aku dulu dalam keadaan begini. Izinkanlah aku menuntaskan pelayaranku sampai ke dermaga cinta hakikiku.”
”Baiklah, anakku. Aku beri tangguh dirimu. Sampai aku menghabisi kenikmatan bakso yang kumakan ini.”
”Terima kasih ayah, akan kulakukan waktu yang sedikit ini dengan tepat dan bijaksana.”
Lampu merkuri banjir dalam hidupnya
Dibiarkannya saja dengan senyuman berarti
Seperti senyuman bidadari kecil menikmati pagi
Yang terpancar di kebeningan rembulan mutu
Yang sudah terpenuhi janji-janjinya sepenuh waktu
”Ayah, kamu memang ayah yang terbaik kumiliki.”
Pontianak, 18032008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Jingga Aksara Menawan Puisi akrostik dari nama: Musfeptial Karya: Sarifudin Kojeh Menjemput ji...
-
Oleh: M. Saifun salakim Rumah rumput memaguti burung patah sayap Masih dapat terbang bebas mengangkasa Menyinggahi rembulan berzikir renyah ...
-
Oleh: M. Saifun salakim Menutup lembaran angin Saat putih-putih mengeposkan email Saat gelegar gendang menghempas di pucuk AC Belum bisa ter...
-
Rasa sakit mendera badannya bagian bawah. Ada apa ya? Rasanya begitu beratnya. Seperti diganduli beban berat yang berton-ton. Jangan-jangan ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar