Oleh: M. Saifun salakim
Jangan menangisi butiran pasir sudah menjadi pantai
Kalau masih tersisa telapak-telapak kenangan
Sewaktu kenangan itu diukir menjadi peta bermakna
Untuk menemukan harta karun terpendam
Di lubuk tanjung keabadian rasa dan jiwa
Sepucuk lilin menyala di perahu penanjung
Berkerlap-kerlip di kelam malam peredaran napasnya
Semakim membiru di hatinya
Jangan menumpahkan intisari tubuh
Kalau masih saja langit memberikan ozon
Sewaktu seorang pelukis diri bisa mengukir kasih sayang
Untuk menemukan kedalaman makna lukisan terpampang
Di kecerahan warna kanvas dan kuas kemahabesaran-Nya
Kesunyian yang syahdu di keheningan jati diri
Disenandungkan mahluk di biru keangkuhan ini
Semakin melaut putih di kedataran gelombang jiwa
Biarkan rapuh dalam ketegaran ini
Menjelma di kejernihan mata-Mu
Padam Lampu Sekilas (PTK), 16102007
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Jingga Aksara Menawan Puisi akrostik dari nama: Musfeptial Karya: Sarifudin Kojeh Menjemput ji...
-
Oleh: M. Saifun salakim Rumah rumput memaguti burung patah sayap Masih dapat terbang bebas mengangkasa Menyinggahi rembulan berzikir renyah ...
-
Oleh: M. Saifun salakim Menutup lembaran angin Saat putih-putih mengeposkan email Saat gelegar gendang menghempas di pucuk AC Belum bisa ter...
-
Rasa sakit mendera badannya bagian bawah. Ada apa ya? Rasanya begitu beratnya. Seperti diganduli beban berat yang berton-ton. Jangan-jangan ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar