Oleh : M. Saifun salakim
Terhenyak-henyak maju mundur
Bus laju bersenggama dengan waktu
Santer memengapkan
Mengucurkan peluh semangat yang menyengat
Melebur
Bersama dengusan rapalan kebersamaan
Kaki keakraban yang kesemutan
Kerlingan mata jiwa yang segar nian
Tak diperhitungkan lapuknya
Sebab wajah elok telah tertatap mengenakkan
Berbaju warna-warni gugusan pelangi
Buku lusuh di dekap cakrawala dada
Kacamata plus minus menerawang jelas
Menghembuskan sejuknya angin sanubari
Terombang-ambing
Di antara aroma gado-gado penumpang kesurupan
Jiwa kami bersahabat
Bersampukan saling tarik menarik
Membuka cakrawala firasat intuisiku
Ada sinar redup terlintas di wajah cerahnya
Suara bocah tengil menyentuh hati
Lepaskan kegerahan kami dan semuanya
Mengenang perginya dia di senyapnya memori hijau
Yang menyemaikan kecambah-kecambah segar
Di tanah rabuk-rabuk, laku-laku, dan aku-aku
Menghiaskan sebuah cermin
“Gerhana Pasti Menerang”
dalam alur waktu yang menggigit zaman
Perjalanan Pontianak- Purun Besar, 6 Maret 2001
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Jingga Aksara Menawan Puisi akrostik dari nama: Musfeptial Karya: Sarifudin Kojeh Menjemput ji...
-
Oleh: M. Saifun salakim Rumah rumput memaguti burung patah sayap Masih dapat terbang bebas mengangkasa Menyinggahi rembulan berzikir renyah ...
-
Oleh: M. Saifun salakim Menutup lembaran angin Saat putih-putih mengeposkan email Saat gelegar gendang menghempas di pucuk AC Belum bisa ter...
-
Rasa sakit mendera badannya bagian bawah. Ada apa ya? Rasanya begitu beratnya. Seperti diganduli beban berat yang berton-ton. Jangan-jangan ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar