Belamin Selalu Berseri
Oleh: Sarifudin Kojeh
/1/
Dulu-dulu sudah pernah
ada
Dalam catatan mayapada
anugerah Yang Maha Kuasa
Dibawa nyata oleh
penerus budaya keluarga keturunan anak raja
Bila anak perempuan
beranjak remaja
Punya garis keturunan
anak raja bestari
Atau bisa dipanggil anak
keturunan darah biru
Dari sebelah apaknya
tercinta
Mesti melakukan belamin
tanpa dibantah
Kalau dibantah akan tekenah
tulah dan balak
Kata ibu-bapak dan
tetua-tetua yang ada
/2/
Dulu-dulu sudah pernah ada
Dalam catatan mayapada
anugerah Yang Maha Kuasa
Dibawa nyata oleh
penerus budaya keluarga keturunan anak raja
Belamin dimulai dengan
siapkan tempatnya
Di tengah rumahnya
Berdiri bangunan kecil
berbentuk empat persegi
Gagah menjulang langit
Atau di tengah
kamarnya yang luas
Berdiri bangunan mungil
dengan kajang
Dengan di atasnya disungkup
kain pelekat panjang
Rapat tanpa berikan
celah sedikit pun
Untuk sinar matahari
menembusinya
Karena, kerapatan kain
dan kajang menjalin padu
Kerapatannya mengisyaratkan
Seorang anak perempuan
mesti mematangkan
Pemahaman diri dan
keimanan kokoh
Sebagai benteng diri sedari awal
Agar terhindar godaan
dan cobaan mendatang
Datang dari luar dirinya
Saat dirinya dalam fase
pertumbuhan
Menuju dewasa pemikiran
dan tindakan
Dalam mengarungi
kehidupan
Supaya selamat sentosa
menjalaninya
Dalam bangunan sudah
tersedia makanan
Dan segala perlengkapan
lainnya
Komplit tersedia dengan
aman
Selama bepekap
Tujuh belas atau tiga
puluh hari lamanya
Dulunya
Berikan paham pada pemikiran
Mengkaji diri di saat
sendirian
Renung diri, hadirkan
berbagai cara
Demi menyongsong masa
depan cemerlang
Berbekal persiapan
matang
Telah dipersiapkan
sedari awal
Mengarungi kehidupan
dengan kemantapan kental
Juga ia berikan tanda
pada diri
Menguntai bait-bait
pujian berarti
Dan mendekatkan diri
pada Ilahi
Sepenuh hati
Demi dapatkan rida-Nya
Sebagai bekal kemantapan
diri
Dalam mengarungi
kehidupan ini
Berjalan sesuai dengan
yang ketentuan-Nya
/3/
Tetua-tetua dan ceredik
pande dipanggil datang
Juga Ustad dan sanak dulor
Kerabat dekat dan
kerabat jauh
Serta tetangga juga
dipanggil
Dari tuan rumah punya
hajatan belamin anaknya
Salah satu tetua ceredik
pande dimahirkan ilmunya
Membuka belamin
dengan segera
Ia lantunkan
mantra-mantra dengan lirih bersahaja
Sembari embuskan
napasnya pada tempong tawar tersedia
Lalu dijiruskannya
tempong tawar pada bangunan belamin
Sekaligus anak perempuan
itu
Membuka jalan terlaksana
dan tanda mulai kegiatannya
Kemudian dilanjutkan
membaca doa selamat oleh ustad dipercaya
Diamini oleh banyak
orang yang datang
Berharap belamin
dilaksanakan, berjalan lancar sampai selesai
Tiada hambatan dan
rintangan datang menghadang
Semuanya diserahkan pada
Tuhan Maha Kuasa
Agar Dia berikan
perkenan-Nya dengan penuh kasih sayang
Ketika selesai belamin
Tetua ceredik pande
dimahirkan ilmunya dipanggil lagi
Beserta ustad dan dulor
semuanya
Tanda kegiatan sudah
terlaksana dengan baik
Dengan mantra penutup
hikmat
Dan doa selamat
diberkahi Yang Maha Kuasa
/3/
Masa sekarang datang
menjelma
Berbagi kisah di musim
kini
Belamin tetap dijalankan sesuai
tradisi
Dan aturan berlaku
sesuai terdahulu
Hanya waktu tiada lama
seperti dulu
Cukup diambil tujuh hari
atau tiga hari mutu
Demi memenuhi syarat
sudah membaku
Suatu ketika ada salah
satu keturunannya
Berpikir untuk
mengabaikan itu bagi anak-cucunya
Tiada melaksanakan
tradisi sudah terpatri membumi
Pada anak perempuan
tersayangnya
Hingga terjadi sesuatu
di luar dugaan
Anaknya bertingkah aneh
seperti orang kurang waras
Mengerucutkan badannya
kurus kerempeng
Dianggap anaknya
menderita penyakit sering melanda
Bawa ke dokter tiada
apa-apa
Kembali dia kepada
pemikiran semula
Bahwa ia telah melanggar
petuah sebelumnya
Maka dicoba untuk
melaksanakannya
Berangsur-angsur anaknya
mulai membaik
Ia pun tiada berani lagi
membantah tradisi
Belamin untuk keturunan anak
raja bestari
Belamin pun terus berseri
Sepanjang zaman terus
berganti
Tetap dirawat dan
dipelihara agar lestari
Setiap detak jantung dan
napas hidup berotasi sendiri
Hingga ajal menjemput nanti
Penuh kasih sayang dari
Ilahi
Bumi Lelabi Putih, 8
September 2025
………………………………………
Keterangan:
§ Apaknya:
ayahnya; bapaknya
§ Belamin:
berdiam
di suatu tempat yang tidak pernah tersentuh oleh sinar matahari oleh anak
keturunan raja yang dilaksanakan secara turun-temurun.
§ Tekenak
tulah dan balak: tertimpa kemalangan yang disebabkan oleh
kutukan atau perbuatan kurang baik terhadap orang tua (orang suci dan
sebagainya) atau perbuatan melanggar larangan; kualat dan malapetaka;
kemalangan.
§ Kajang:
Anyaman
dari daun nipah, mengkuang, dan sebagainya untuk atap (penutup).
§ Disungkup: ditutupi
sesuatu atau seluruh badan dengan
kain atau sesuatu yang lain agar tidak kelihatan.
§ Kain
pelekat: sejenis
kain sarung tenun yang memiliki motif loreng-loreng atau kotak-kotak.
§ Bepekap: bersembunyi
di suatu tempat agar tidak diketahui orang atau apa pun.
§ Ceredik
pande:
Orang
tua yang dihormati karena memiliki kecerdasan dan kepandaiannya yang mumpuni;
cendekia; cerdik-pandai.
§ Tempong
tawar:
beras yang ditumbuk-tumbuk sehingga menjadi tepung.
Dimasukkan dalam nampan berisi air
hingga airnya terlihat memutih.
§ Dijiruskannya: disiramkannya
§ Dulor: saudara
Tidak ada komentar:
Posting Komentar