Hatiku berdebar-debar melihat sebuah motor king yang sudah tergeletak tak berdaya. Badannya berpatahan. Tabrakan ini sungguh parah sekali. Hatiku lirih berucap. Sungguh kasihan orang yang mengalami tabrakan ini.
Semilir angin menghantarkan lecutan kuda besi yang kukendarai berjalan cepat. Saat memasuki jalan Ahmad Yani dari rute Rasau Jaya, kuperlambat lecutan kuda besiku. Aku teringat ayahku yang berada di belakang. Aku menghentikan kuda besiku di tempat yang aman. Seterusnya aku merogoh saku celanaku, mengambil HP. Aku segera mengebel ayahku. Sinyalnya pun menyambung. Aku pun senang dan menanyakan dia sudah sampai dimana.
”Aku masih di simpang tiga jalan mau masuk Sungai Durian.”
”Aku tunggu yah, di jalan Ahmad Yani. Aku jalan santai-santai saja dulu.”
”Baiklah,” kata ayahku.
Sungguh aku mengkhawatirkannya. Aku tidak tahu. Mengapa aku bisa segundah ini? Padahal sebenarnya perasaan itu tak pernah aku rasakan? Mengapa bisa jadi begini?
~oOo~
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Jingga Aksara Menawan Puisi akrostik dari nama: Musfeptial Karya: Sarifudin Kojeh Menjemput ji...
-
Oleh: M. Saifun salakim Rumah rumput memaguti burung patah sayap Masih dapat terbang bebas mengangkasa Menyinggahi rembulan berzikir renyah ...
-
Oleh: M. Saifun salakim Menutup lembaran angin Saat putih-putih mengeposkan email Saat gelegar gendang menghempas di pucuk AC Belum bisa ter...
-
Rasa sakit mendera badannya bagian bawah. Ada apa ya? Rasanya begitu beratnya. Seperti diganduli beban berat yang berton-ton. Jangan-jangan ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar