Senin, 10 September 2007

Kliping atau Cinta

Oleh: M. Saifun salakim

Aduh kemana sih Sakim? Sudah setengah delapan belum juga memunculkan batang hidungnya. Katanya mau menjemputku. Ingin mengajakku bermalam minggu ke Kafe Lestari. Dia dimana ya? kesal Sache malam ini.
Aku sudah berdandan cantik-cantik begini, kok diabaikan. Apakah dia masih sibuk dengan klipingnya? Jangan-jangan dia hanya menyakiti hatiku? Jangan-jangan dia membawa cewek lain ya? Jangan-jangan... seribu jangan memenuhi rongga kepalanya.
Sialan Sakim. Kalau kutahu dia ingkar janji. Tak akan kutunggu dia lama begini. Membosankan. Lebih baik aku tadi pergi saja ama Devi, Okta, Yuli, dan Nita. Mejeng di mall. Kini teman-temanku bisa bersukaria, aku malahan gigit jari. Ini gara-gara Sakim. Aku kesal..........
“Sakim dimana kamu?” Pekik Sache melepaskan kekesalannya. Karena dia ditelantarkan. Karena dia dibuat kesal menunggu selama tiga jam. Waw, sungguh penungguan yang cukup lama.
~oOo~

Sakim betul-betul melupakan janjinya dengan Sache. Dia asyik bercengkerama dengan Bang Has di rumahnya. Obrolan mereka terus saja mengalir seperti aliran air sungai ke muara. Apalagi dalam obrolan itu ditemani teh panas penghangat pernapasan. Pelancar urat nadi mengalir. Kue kecil juga menemani mereka.
Seketika.
“Bang Has, abangkan banyak membeli majalah dan surat kabar. Bolehkan aku minta surat kabarnya yang terbitan mingguan saja. Aku hanya ingin tulisan sastranya untuk kukliping,” pintaku serius.
“Boleh saja. Kamu cari sendiri saja bagian yang kamu mau itu. Tumpukan majalah dan surat kabarnya abang simpan di ruang belakang. Kamu bongkar saja. Ambillah yang kamu inginkan. Kalau sudah selesai rapikan lagi ya?” jawab Bang Has.
“Beres Bang Has. Itu gampang diatur.”
~~oOo~~

Aku mulai membongkar tumpukan majalah dan surat kabar yang begitu banyaknya. Setinggi gunung Kinibalu. Aku mulai melakukan gerilya yang begitu tajam dan jeli. Bagian yang ada sastranya mulai kulepaskan dari baju majalah dan surat kabar. Aku letakkan terpisah. Perbuatan itu kulakukan berulang kali. Hingga banyak sudah bagian sastra yang kudapatkan. Kegiatan yang kulakukan itu menimbulkan rasa penat di seluruh tubuh. Aku berhenti sejenak beraktivitas. Aku melakukan senam ringan. Aku lemaskan otot-otot tubuh yang kaku dengan menggerakkannya ke kiri dan ke kanan, ke atas dan ke bawah secara berkali-kali. Sehingga tubuhku kembali seperti keadaan semula. Otot-ototku mulai lancar lagi untuk kugerakkan.
Aku tak sadar. Di luar gemuruh hujan menerjang ganas. Jatuhnya berdentang di atas rumah Bang Has seperti percikan jatuhnya bom atom. Menabuhkan gendang dan musik keperkasaannya. Semakih riuhnya seperti riuhnya cicitan anak ayam mendapatkan jatah makanan dari induknya. Sesekali titik hujan menerobos masuk dengan paksa ke ruangan dimana aku lagi asyik beraktivitas melepaskan bagian sastra dari baju majalah dan surat kabar. Ternyata ventilasi di ruanganku ada sedikit giginya yang telongos. Berlubang digerogoti kuman penyakit lapukan. Kuning tak beremail. Kusam dan suram. Titik hujan juga menjamah manja sedikit kulit mulusku yang tersingkap. Aku membersihkannya dengan kemesraan yang sama.
“Pelan-pelan saja, Sa. Jangan terlalu dikebut-kebut. Kalau dikebut nanti bisa keluar kentut. Cepat-cepat pun, kamu belum bisa pulang. Karena di luar masih hujan. Kalau sekiranya capek, istirahat dulu. Ini abang telah buatkan air teh. Mudah-mudahan air teh ini bisa mengendorkan penatmu.” Bang Has meletakkan secangkir teh panas yang masih mengepul hangat di depanku. Baunya segar merasuki rongga-rongga hidungku. Nikmat.
Tahu saja Bang Has teh kesukaanku, ucapku dalam hati.
Aku meyeduh teh yang disediakan Bang Has. Seteguk. Dua teguk. Seterusnya hingga tandas. Tinggal sisa ampasnya saja. Air teh itu telah membangkitkan semangat bekerjaku lagi. Air teh itu menyegarkan perasaanku. Makin gres untuk menyelesaikan tugasku memilah bagian sastra dari baju majalah atau surat kabar. Hingga aku mendapatkan sebungkal. Lalu bagian sastra yang telah terpilah itu kubundel biar mudah kubawa ke rumah nantinya. Cukup banyak. Sebanding dengan energi yang kukeluarkan.
“Bang Has sementara cukup segini dulu. Terima kasih ya telah mengikhlaskan majalah atau surat kabarnya kupreteli,” kataku senang.
“Sama-sama, Sa. Kalau masih membutuhkan atau memerlukannya. Datang dan ambillah ke sini. Ruang belakang rumah abang masih terbuka untuk menerimamu datang kembali. Majalah atau surat kabar di sini abang lihat telah mengikhlaskan tubuhnya untuk kamu gunakan dalam bentuk yang berbeda. Dia merasa senang berjumpa dengan orang kreatif seperti kamu. Dapat memberikan dia sedikit hidup yang lebih berharga dari di sini. Kalau dia di sini hanya sebagai tumpukan penghias gudang. Kalau denganmu, minimal dia merasakan lebih bersih dan bermakna dari nasibnya di sini. Kumal. Dekil. Pengap dan kepanasan,” seloroh Bang Has.
“Ah, Bang Has pandai sekali bercandanya. Aku merasa tersanjung. Tapi bukan lanjutan tersanjung ketujuh. Bang Has, terima kasih sekali lagi atas sanjungannya, kebaikan hatinya, dan keikhlasan suguhan manis dan hangat tadi,” balasku bahagia. Bahagia karena punya senior dan sekaligus punya sahabat yang baik hati dan pengertian seperti Bang Has. Tidak hanya itu, Bang Has juga pendorong semangatku untuk melakukan kegiatan membuat kliping yang bermanfaat itu.
“Astaghfirullah,” kataku baru tersadar. Bukankah aku ada janji dengan Sache. Mau mengajaknya ke Kafe Lestari.
Sache, maafkan abang. Abang benar-benar lupa. Abang tidak ada niat ingkar janji.
~~oOo~~

Waktu luang mulai aku gunakan untuk membuat kliping yang kukumpulkan dari rumah Bang Has. Melelahkan memang. Tapi aku tetap melakukannya dengan senang. Karena mengasyikkan. Kadang-kadang adikku mengomel.
“Abang nih bagaimana? Baru saja kaca dibersihkan sudah dikotori lagi. Jadilah Bang mengelem klipingnya di kaca tamu ini.”
“Nanti aku bersihkan dik,” jawabku sekenanya.
Adikku tak berkomentar lagi. Omonganku tak pernah terealisasi. Aku tak pernah membersihkan kaca yang telah kotor dengan lem. Malahan lepotannya tambah banyak membentuk bintik-bintik putih seperti panu melekat di tubuh. Guntingan kertas berserakan.
Kalau dia mengomel dan akan meradang. Aku hanya diam dan tersenyum. Melihat senyumku yang begitu tulus dan menandakan kemelasan. Akhirnya adikku hanya merengut saja. Tetapi secara perlahan demi perlahan aku menjelaskan kepadanya tentang kesenangan dalam membuat kliping. Adikku pun dapat kupengaruhi. Karena dia sudah mengerti dan memahami kegunaan atau kesenangan yang dapat ditimbulkan oleh kliping. Dia malahan membantuku dalam membuat kliping. Kerjasama kakak beradik yang sungguh mengasyikkan.
“Asyik juga kegiatan seperti ini ya Bang?” katanya polos. Aku menganggukkan kepala tanda memberikan kata setuju.
~~oOo~~

Kliping. Walaupun bentuk tubuhmu sederhana dan penuh lekatan dan tampalan memperindah suasana, tapi kamu banyak memberikan pelajaran bermanfaat untukku. Kamu memberikan kekreatifan padaku untuk menggunakan waktu luang dengan efektif. Kamu menanamkan kesabaran dan ketelatenan padaku dalam mengerjakan sesuatu agar dapat menghasilkan sesuatu yang baik. Kamu menumbuhkan jiwa wiraswasta padaku dengan cara memanfatkan kertas yang tak berguna atau kertas bekas menjadi sesuatu yang berharga atau berarti sesuai petuah yang pernah diberikan dosenku, Bu Suryati B. Azharie.
“Belajarlah memanfaatkan barang bekas di sekitarmu untuk dijadikan sesuatu yang berguna bagi dirimu sendiri dan orang lain.” Hal itu memicuku untuk membuatmu dari tampilan persatuan dan kesatuan barang-barang yang tak berguna, seperti kertas yang terpakai di belakangnya. Karena depannya telah digunakan orang lain.
Selain itu kamu banyak kugunakan untuk referensi dalam menambah wawasanku.
~oOo~

“Sa, katanya Has kamu suka mengliping majalah atau surat kabar. Boleh aku meminjam klipingmu. Aku lagi mencari topik mengenai saiber sastra,” kata Bang Don. Dia lagi duduk di ruang tamu. Ruang tamu rumahku yang sederhana. Segelas es dingin sudah sedari tadi kusodorkan untuknya. Tetapi belum disentuhnya.
“Memang ada sih Bang Don. Sebentar aku ambilkan dulu,” jawabku.
Bang Don menyeruput es dingin yang kuhidangkan. Kemudian dia mengambil rokok dari saku bajunya. Dinyalakannya rokok itu. Dia mulai menghisap rokok. Asap rokoknya bergegas menghilang lewat ventilasi rumahku dan ada sebagian asap rokok berputar-putar di atas kepalanya seperti putaran ufo. Sekali lagi diteguknya es dingin di depannya. Dia mulai merasakan saluran pernapasannya lancar dan perasaannya adem.
“Bang Don, ini klipingnya,” sodorku padanya. Bang Don mengambil bundelan kliping yang telah kujilid. Dia mulai memeriksanya halaman demi halaman. Semuanya fotokopi.
“Sa, aslinya kamu simpan kemana dan mengapa setiap topik yang kamu ambil dalam kliping ini tak kamu sertakan tanggal koran dan apa nama korannya. Sumbernya?”
“Aslinya ada Bang Don. Aku taruh di saku kursi. Tak tahu Bang Don. Itu masukan yang bagus sekali buatku. Nanti kalau aku mengliping lagi akan aku cantumkan nama koran dan tanggal terbitan koran. Sebentar aku ambilkan,” sengatku.
“Sudah Sa, biar aku ambil sendiri saja,” katanya merogoh saku kursi yang tak jauh dari duduknya. Benar saja. Bang Don mendapatkan aslinya. Bang Don merasa senang. Bang Don mengambil aslinya.
Mulai saat itu. Aku mulai mencantumkan tanggal terbit dan nama korannya setiap mengliping tulisan dalam koran tersebut. Biar tulisannya bisa dilacak kebenarannya.
~oOo~

“Sa, boleh aku pinjam klipingnya untuk pelengkap skripsiku,” kata Fahmi sore itu. Fahmi adalah mahasiswa Universitas Tanjungpura jurusan pendidikan bahasa dan seni.
“Boleh, silakan saja. Tapi jangan lupa dikembalikan,” jawabku lalu mengambil kliping dan menyerahkan padanya. Fahmi menerimanya dengan ceria. Seakan ia mendapatkan makanan yang enak. Parasnya memancarkan rembulan yang sinarnya putih melepah. Aku sungguh senang dapat membantu orang lain. Walaupun dengan barang yang begitu sederhana, kliping. Hanya terbuat dari barang rongsokan tetapi memiliki manfaat yang sangat banyak.
“Kamu jangan khawatir, Sa. Tak mungkin aku jual klipingmu ini. Kalau selesai skripsiku pasti aku kembalikan klipingmu ini. Aku tahu kliping ini lebih berharga kalau berada di tanganmu. Sa, aku sungguh salut padamu. Rajin dan uletnya kamu membuat kliping sehingga jadi sebundel begini,” pujinya untuk menyenangkan hatiku.
“Ah, basi sudah pujian seperti itu. Sebab aku bukanlah orang yang suka dipuji. Tetapi aku lebih suka dikritik. Karena kritikan bagiku sebagai motivasi untuk memperbaiki apa yang telah kukerjakan untuk mencapai yang terbaik. Lebih baik kamu berikan kritikanmu tentang pembuatan klipingku ini. Apa saja kekurangannya,” pintaku.
“Pujian yang kusampaikan tadi betul-betul tulus, Sa. Aku…,” katanya.
“Ah, sudahlah. Tak usah kamu lanjutkan lagi. Lebih baik kamu secepat nya menggunakan kliping ini agar kamu cepat menyelesaikan skripsimu.”
“Ceritanya mengusir nih?”
“Tidak. Cuma menyuruh kamu cepat wisuda.”
“Oke sobat. Terima kasih atas masukannya. Doakan saja agar cepat selesai skripsiku dan wisuda. Serasanya aku sudah terbayang mau wisuda. Memakai toga dan mendapatkan gelar. Kan bisa menaikkan prestise di mata masyarakat. Iyakan sobat?”
“Iyalah…”
“Okelah sobat, aku pamit dulu,” katanya. Lalu ia melangkahkan kakinya ke luar dari rumahku.
“Ya, sobat. Semoga sukses,” jawabku mengantar kepulangannya sampai di depan pintu rumahku.
~oOo~

“Sa, mengapa kamu tak pernah bisa meluangkan sedikit waktumu seperti dulu lagi untukku,” ujar Sache seraya menyeruput es sosronya.
“Aku sibuk, Che. Banyak kerjaan,” jawabku pendek. Kalau kepanjangan. Sache akan menerorku dengan berbagai pertanyaan yang semestinya semua pertanyaannya harus aku jawab. Kalau tidak aku jawab ia akan kesal. Kan buang energi namanya. Lebih baik aku menjawab apa adanya. Pendek tapi mengena pada sasaran. Aku tak lupa juga menyeruput es sosro, sama jenisnya dengan Sache.
“Sibuk apaan sih, Sa? Sehingga sehari saja tak bisa meluangkan waktu untukku. Aku kan kekasihmu. Masak aku tak pernah ada tempat di hatimu. Masak aku tak pernah ada dalam agenda waktu luangmu. Memangnya kerjaanmu tiap hari ya?” Matanya sedikit mencekung, menatapku tajam sekali. Seakan ingin mengorek kedalaman hatiku untuk mengetahui isinya dengan jelas. Apa yang telah kupikirkan saat ini.
“Iya, Che. Benar sekali katamu. Hari minggu yang seharusnya libur, aku terus bekerja. Karena memang begitulah kerjaanku. Che, aku ingin kamu dapat mengerti keadaanku. Kalau kerjaanku selesai. Aku berjanji akan meluangkan waktuku semuanya untuk kuhabiskan bersamamu. Tapi untuk hari-hari ini aku belum bisa meluangkan waktu luang itu untukmu. Aku harapkan kamu bisa mengertiku.”
“Sa, aku sudah banyak mengertimu. Cuma kamu saja yang belum bisa mengertiku. Aku sebagai kekasihmu butuh perhatian dan kasih sayang. Tidak hanya itu aku juga butuh tempat dalam hatimu. Selalu kamu kenang setiap saat. Pernahkah itu kamu berikan padaku? Sampai saat ini belum pernah. Aku saja yang selalu berkorban untukmu. Apakah itu bukti aku belum bisa mengertimu. Sa, aku kadang merasa jenuh juga melihat kamu sibuk dengan pekerjaanmu. Dan tak pernah meluangkan waktu sedikit saja untukku. Bila aku meminta kamu meluangkan waktu sehari saja untukku. Kamu selalu bilang, aku banyak pekerjaan. Aku lagi sibuk. Alasan itu-itu saja. Tak pernah berubah. Sekali, dua kali aku bisa memakluminya. Tapi sekarang aku sudah bosan mendengar alasanmu itu. Aku capek terus mengertimu. Maaf Sa, aku tak bisa mengerti dan menerima alasanmu lagi. Atau ini hanya alasanmu untuk menutupi sesuatu yang tidak boleh aku ketahui. Jangan-jangan kamu sudah punya gaetan baru ya, Sa?”
“Jangan ngelantur begitu, Che. Jangan berprasangka yang bukan-bukan. Dalam hatiku hanya ada kamu seorang, tak pernah ada orang lain selain kamu. Aku masih sayang kamu. Aku tak pernah bohong. Aku saat ini betul-betul sibuk. Che, aku mohon sekali ini lagi. Kamu coba mengertilah. Aku berjanji setelah selesai pekerjaanku minggu-minggu ini, aku akan banyak meluangkan waktu untukmu. Che, please…” Wajahku memelas. Betul-betul minta belas kasihannya untuk memahami posisiku saat ini. Betul-betul disibukkan pembuatan kliping yang bertumpuk-tumpuk dan harus diselesaikan secepat mungkin.
Sache memperhatikan wajahku. Sebentar dia mendengus. Mengeluarkan asap kekecewaan lewat hidungnya. Aku terus berdoa semoga saja pintu hatinya terbuka untuk memahami kesibukanku yang bukan dibuat-buat. Betul-betul sibuk bekerja.
“Tak bisa lagi, Sa. Kesabaranku sudah habis untuk mengertimu. Sekarang begini saja, kamu pilih salah satu antara aku dengan kerjaanmu yang sibuk itu. Kalau kamu memilihku karena sayangmu padaku, maka kamu harus mengurangi kesibukanmu dan selalu banyak menghabiskan waktu bersamaku. Tapi kalau kamu memilih pekerjaanmu berarti hubungan antara kita cukup sampai di sini saja. Tak perlu kita lanjutkan lagi. Berakhir.”
“Che …..” tercekat aku mendengar bicaranya.
“Kamu memberikan suatu pilihan sulit sekali bagiku. Dua-duanya sungguh aku sayangi dan cintai. Che….”
“Terserah,” jawabnya santai.
Aku sejenak merenung. Aku perhatikan wajahnya. Datar tak bergelombang. Berarti ia betul-betul serius mengatakan itu. Aku mulai melakukan pertimbangan-pertimbangan. Pilihan mana yang kiranya cocok untuk kupilih.
“Baiklah, Che… Aku mengalah. Semua ini kulakukan demi sayangku padamu. Aku rela mengorbankan pekerjaanku. Aku memilihmu,” tegasku.
Mendengarkan kata-kataku, Sache tersenyum manis. Semanis gula pasir.
“Begitu, Sa. Itu baru namanya kekasihku,” katanya merajuk sayang padaku.
~oOo~

Kegilaanku pada kliping masih menjadi-jadi. Aku melupakan janji yang telah kuucapkan pada Sache, agar banyak meluangkan waktu bersamanya. Malahan aku lebih banyak meluangkan waktu untuk pembuatan kliping. Memang hobi sulit sekali dilupakan. Seakan hobi itu telah mendarah daging dalam tubuh. Sulit untuk dihapuskan dalam memori.
Mendapati pembelotanku. Melupakan janji yang telah kuucapkan kepadanya. Sache berang dan mencak-mencak. Dia marah. Bahkan dia merajuk tak ingin berjumpa lagi denganku untuk selama-lamanya. Berarti dia telah memutuskan perhubungannya denganku. Tapi aku tak merasa diputuskannya. Aku tetap menganggap hubunganku dengannya tetap ada. Aku anggap apa yang dikatakannya adalah perkataan yang meracau. Karena perkataan itu diucapkannya saat dia lagi emosi.
Untuk memperbaiki kesalahan itu. Aku terus menerus mendatanginya agar dia bisa memaafkan kesalahanku. Aku berjanji tak akan mengulangi kesalahan itu lagi. Dia masih tak mau menerimaku. Tapi aku tak berhenti menemui dan mendatanginya dan selalu mengatakan hal yang sama. Aku minta maaf dan berjanji tak akan mengulangi kesalahan itu. Yang telah menelantarkannya. Karena kegigihanku. Dia pun menerimaku. Dia kembali lagi padaku. Tapi dia hanya memberikan satu kesempatan saja buatku untuk berubah. Kalau sekiranya aku mengulangi kesalahan yang sama maka dia tak segan-segan akan meninggalkanku untuk selama-lamanya. Aku menyanggupinya.
Hari ini. Dia mengajakku ke mall. Aku menurut. Walau di mall, aku lebih banyak jadi patung. Berdiri saja. Tak bisa melakukan aktivitas. Paling beraktivitas, hanya membaca buku. Dia saja yang agresif mengitari setiap jengkal lorong-lorong mall. Merasa puas berjalan dan membeli barang yang diinginkannya. Dia mengajakku ke Alun-Alun Kapuas. Dia ingin sekali menaiki bebek berenang bersamaku. Aku menuruti kemauannya. Dia begitu senang kuperlakukan seperti itu. Tangannya yang mulus kadang-kadang begitu nakal memercikan air lautan ke wajahku. Aku membalasnya. Dia juga membalasnya sambil tertawa lepas. Senangnya dia. Cerianya dia. Capek main bebek berenang, dia mengajakku ke Restoran Seruni. Mengisi perutlah tentunya. Aku senang saja. Lupalah aku dengan pekerjaanku membuat kliping. Memang pintar Sache mengalihkan pikiranku agar tak terfokus pada pekerjaanku. Malahan pikiranku selalu terfokus pada cara-cara yang dilakukan untuk membuat Sache senang dan bahagia.
Di Restoran Seruni. Sache memesan makanan yang enak-enak. Hingga selera makanku tertantang untuk menghabiskan makanan yang dihidangkan. Benar saja. Aku makan begitu lahapnya. Dia juga sama. Lahap makannya.
Seketika aku tersentak. Pikiranku tersengat oleh sengatan kalajengking kesadaran pada pekerjaanku. Perasaan hobiku menghangat. Kegilaanku kumat. Aku ingat bahwa hari ini aku harus menyelesaikan sebuah kliping penting. Kliping itu adalah pesanan pejabat penting di kota ini. Perasaan bimbang berkecamuk. Merejam-rejam urat sarafku. Bagaimana ya aku harus menghindari diri dari Sache agar dia tak tersinggung. Kalau kukatakan yang sejujurnya, dia akan sakit hati. Dia pasti akan memutuskanku. Aduh bagaimana ya?
“Ada apa, Sa. Kok kamu nampak bingung dan pucat? Kamu sakit ya?” tanya Sache melihat perubahan di wajahku. Bingung dan pucat. Dia memperhatikanku. Dia sungguh peduli padaku. Dia sungguh menyayangiku. Aku tersentuh dengan kelembutannya itu. Dia begitu baik. Tak logislah kalau aku menyakitinya lagi. Dia sudah banyak berkorban untukku.
Tuhanku, berilah aku jalan keluar masalah ini. Kupanjatkan doa itu dalam hati.
“Aku tak apa-apa, Che. Aku cuma kelelahan saja…,” jawabku sekenanya.
“Kalau begitu kita pulang saja Sa biar kamu dapat beristirahat.”
“Tak usah, Che. Aku masih ingin menemanimu. Tapi aku….”
“Kamu ada apa, Sa. Katakanlah,” mintanya. Matanya menyelidiki kedalaman hatiku lewat pantulan mataku. Namun dia belum menemukan apa-apa.
Aku menghembuskan napas gundah ini. Aku berpikir sebentar. Memikirkan baik buruk apa yang kulakukan nanti.
“Kamu ada apa, Sa? Katakanlah apa yang ingin kamu katakan,” mintanya untuk kedua kalinya.
Aku tak boleh terus begini. Aku harus dapat mengambil keputusan jikalau sudah dijalari dilema seperti ini. Kalau dibiarkan terus, jarum jam terus saja berputar melibas waktu yang ingin kugunakan untuk meraih kesempatan. Aku harus mengambil kesempatan ini. Harus. Aku berdiri dari bangku.
“Che, aku minta maaf padamu lagi hari ini. Walau kamu tak memaafkannya. Aku terima itu. Che, hari ini aku tak bisa mengantarmu pulang. Karena aku harus pulang sekarang. Pulang ke rumahku. Aku harus menyelesaikan pembuatan kliping klienku. Deadlinenya besok pagi. Malam ini aku harus menyelesaikannya. Kliping yang akan kuselesaikan ini adalah kliping yang sangat berharga dalam hidupku. Kliping untuk kesuksesan masa depanku. Kalau sekiranya kliping ini tak kuselesaikan berarti aku telah menghancurkan masa depanku sendiri. Untuk itu, aku harus menyelesaikannya. Kesuksesan masa depanku lebih penting sekali. Che, sekali lagi maafkan aku. Aku tak berniat menyakiti hatimu. Aku tak berniat mengingkari janjiku. Che, aku sayang padamu sampai kapanpun. Aku menyintaimu untuk selama-lamanya. Che, maafkan aku,” kataku mulai bergegas meninggalkannya.
Aku tak ingin mendengar komentar darinya. Apapun komentarnya atas perbuatanku hari ini, terserah dialah. Yang penting aku sudah mengatakan yang sejujurnya.
Pikiranku saat ini hanya terfokus untuk menyelesaikan pembuatan kliping tersebut. Kliping pesanan pejabat teras di kotaku. Harus kuselesaikan. Kliping itu sangat penting bagi pejabat tersebut. Besok pagi pejabat itu akan mengambil klipingnya. Sebagai imbalan dari pembuatan kliping itu, dia akan mengangkatku menjadi Kabag Administrasi Perkantoran di kantornya. Beruntungkan. Menjadi Kabag Administrasi Perkantoran tanpa promosi, tetapi melalui koneksi jasa.
~oOo~

Tidak ada komentar:

Jingga Aksara Menawan Puisi akrostik dari nama: Musfeptial Karya: Sarifudin Kojeh                                        Menjemput ji...